Monday, February 20, 2017

Kumpulan Petuah Bijak dan Kisah KH Nafi' Abdillah Kajen Pati

Ahad (19/2) Sang Kyai NU nan Kharismatik asal Kajen Pati, KH Ahmad Nafi' Abdillah (70 tahun), berpulang ke Rahmatullah sekitar pukul 00:30 waktu Istanbul (di RSUD Bakırköy İstanbul). Beliau wafat setelah menunaikan Ibadah Umroh kemudian berkunjung ke Uzbekistan dan terakhir di Turki yang saat ini sedang bersuhu sangat dingin.

Destinasipati.com berusaha mengumpulkan sejumlah nasihat beliau dari santri santri maupun kerabatnya. Semoga bermanfaat dan makin berkah ilmunya. Berikut beberapa petuah bijaknya.

TIPS SEHAT ALA Mbah K.H. Nafi' Abdillah

(Dikisahkan Ahsanul Fuad)
Usahakan jangan makan terlalu banyak,
 "aku nek mangan iki sedino ping pindo, mau jam 7 isuk, jam 10 ngombe teh, lan sak wuse ashar"
Ketika makan jangan disertai minum.
"Salahmu dewe sereden, wong wis diwarahi yen ngunyah iki 27 kali"
Dan minum ±2 jam setelah makan.
"Soale wektu bar mangan iki pencernaan lagi bekerja

KETAWADLU’AN Mbah Nafi’ (KH. Nafi’ Abdillah)

(Dikisahkan oleh Abdullah Khoirzad)
Ingatan saya yang masih jelas tentang beliau adalah ketawadlu’an dan kesopanan santunan yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
Saat aku di kelas 2 Aliyah, beliau mengampu Mustholah Hadist. Saat hataman diakhir tahun, beliau menangis didepan kelas, di hadapan kami sembari dawuh dalam bahasa khas Jawa Kajen medok yang maksudnya,
“Aku tidak pantas mengajar kamu, karena aku tidak sesuai dengan kriteria sebagai seorang muallim karena itu, maafkan aku,”
Peristiwa itu sudah terjadi di era tahun 1980-an saat beliau masih sebagai guru yang relatif masih muda, karena waktu itu masih ada generasi sepuh, semisal Romo Kiai Rifa’i Nasuha, Romo Kiai Hasir, juga masih ada Mbah Abdullah Salam.

KETAKZIMAN Mbah Nafi’ (KH. Nafi’ Abdillah)

(Dikisahkan oleh Abdullah Khoirzad)
Dan ternyata ajaran ketawadlu’an dan takzim beliau masih tetap diajarkan kepada santrinya saat beliau sudah memegang tongkat estafet kepemimpinan di Kajen pasca Mbah Sahal Mahfudz wafat.
Masih gamblang dalam ingatan saya, saat acara 1000 hari mbah Sahal. Ketika Mbah Nafi’ ini rawuh di halaman depan rumah Mbah Sahal, beliau tidak mau pinarak (duduk) didalam rumah bersama para kiai yang lain. Maka aku berusaha mendekati dan Sungkem ta’dzim dengan cara mushofahah, sembari aku matur.
 “diatur pinarak wonten lebet” (Dipersilakan duduk di dalam rumah)

 Jawaban beliau, merupakan hadiah ilmu yang sulit dinilai harganya bagiku,
“masak aku pinarak di dalam, sementara sebentar lagi guruku rawuh, Mbah Maemun Zubair Sarang, ora pantas Yak,” kata beliau.
Sehingga selama acara itu, beliau berdiri di depan ndalem Mbah Sahal memerankan diri sebagai penerima tamu, berjajar dengan adik beliau, Gus Zakki. Meskipun akhirnya Mbah Maemun -karena kondisi kesepuhannya,- tidak jadi hadir, Mbah Nafi’ tetap menunggu di depan ndalem, sebagai bentuk ta’dzim terhadap sang Guru.

NASIHAT UNTUK WANITA HAMIL

(Dikisahkan Nashiruddin Ahmad)
Nak arep lahiran iku akeh2 i moco  (laailaha illa anta subkhanaka inni kuntu minad dholimin), insyaallah angger yakin bakale diparingi gampang lan lancar. Woco setiap bar sholat minimal peng 3.
Iku dongane Nabi Yunus pas ono neg njero wetenge Iwak Paus. Terus nak bar lahiran ojo lali khataman neng makame Mbah Mutamakkin, tapi dibatasi waktune misale sak wulan / rong wulan kudu khatam.

NASIHAT UNTUK YANG BERHARAP KE KAYAAN

(Dikisahkan Nashiruddin Ahmad)
-Ojo langsung arep-arep sugeh, soale "kekarepan iku ora biso nembus ketetepane Gusti Allah" . Nak kaidahe neng kitab hikam kae ( سوابق الہمم الخ). Disyukuri wae sitik2 gag po po seng penting halal.
-Nak pas kerjo, meskipun kerjo opo wae, khususe dodolan, akeh-akehi moco sholawat. Pas nunggoni dagangan moco sholawat, nak ono wong tuku leren sek, bar ngedoli moco sholawat neh insyaallah iso dadi tambah laris tur Barokah dodolan mu iku.

NASIHAT BAGI YANG SUDAH BERUMAH TANGGA

Rumah tangga iku seng penteng:
1. Sabar
2. Sadar diri nak hakikate wong lanang iku seng noto wong wedok.
3. Nak ndelalahe ono perselisihan / tukaran, ojo ngasik anak2 mu weruh.
4. Nak coro Mbah dullah salam ndisek , nak anakmu pengen dadi "wong", ngakeh2 no sedekah, niati nyedekahi anak. Perilaku sedekah iki iso gawe atimu ora kantel karo ndonyo.
Nak bojo lanang seng sedekah, ganjarane iku seng entok nggo wong 4, lha nak seng wedok seng sedekah, ganjarane entok nggo wong 7.
5. Nak wayah pas pertama kali nyentuh bojomu, sentuho embun2 e disek, trus dongakno mugo2 pemikirane tambah apek, penalarane apek, lan sedoyone tambah apek.

MENGHARGAI PERBEDAAN PENDAPAT

(Dikisahkan KH. Muadz Thohir )
Mengapa perpecahan makin seru dan menjadi-jadi? Sebab sekarang ini setiap kali orang berbeda pendapat itu tidak mengikuti cara ulama’ dulu. Dulu beliau-beliau kalau beda pendapat tidak mencari bolo (pengikut--Jw), ditandangi (dihadapi--Jw) sendiri dan tidak mencari pengikut apalagi dengan cara-cara memfitnah. Imam madzahib dan para kyai beda pendapat tapi dengan tetap menghormat. Pada zaman dahulu banyak gegeran, tapi ‘bar yo bar’ (tidak ada dendam--Jw), tidak mencari teman untuk berseteru. Lha sekarang, gegeran selalu diikuti dengan mencari pengikut dan pendukung, mengajari memfitnah maka tidak heran kalau gegeran itu semakin dalam dan ruwet.
Imam-imam madzhab dan kyai-kyai dulu banyak yang berbeda pendapat, tapi masih menjaga rasa takdzim dan hormat.
Pernah suatu ketika, Mbah Mahfudh Salam (Ayah KH Sahal Mahfudh Kajen Pati) menjamak shalat dhuhur dan shalat ashar hanya karena ingin mengkhatamkan sebuah pengajian kitab. Kajen pun geger. Banyak kyai yang tidak sepakat, namun tetap menaruh hormat dengan apa yang dilakukan oleh Mbah Mahfudh Salam.
"Aku mengamalkan salah satu pendapat yang ada di dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin. Kalau tidak diamalkan, lantas siapa yang mau menggunakan?"
Jawab Mbah Mahfudh saat ditanyai kyai-kyai Kajen.
Dulu, banyak ulama yang ramai berbeda-beda pendapat mengenai sebuah persoalan. Tetapi "bar yo bar" (selesai, ya selesai), setelah itu tidak ada dendam. Karena beliau-beliau saling menghormati satu sama lain. Lha sekarang, jika ada ramai-ramai beda pendapat, selalu diikuti dengan mencari pengikut dan pendukung, sembari mengajari memfitnah. Maka tidak heran kalau gegeran itu semakin dalam dan ruwet.
Ulama yang benar-benar ulama cirinya itu ada 4:
1. Yang senantiasa bersedekah baik dalam keadaan mudah maupun susah
2. Yang mampu menahan emosi/amarah
3. Yang mudah memaafkan orang lain
4. Yang selalu ingat kepada Allah ketika melakukan kesalahan, kemudian beristighfar dan meminta maaf kepada yang bersangkutan, dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan.


Artikel Terkait

Kumpulan Petuah Bijak dan Kisah KH Nafi' Abdillah Kajen Pati
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Load Comments