Tuesday, January 17, 2017

Masjid Agung Baitunnur Pati, Tanpa Kubah dan Bergaya Minimalis. Begini Sejarahnya

destinasipati.com Jejak sejarah Masjid Agung Pati sempat tak terlacak. Para sesepuh dan tokoh masyarakat selama berpuluh-puluh tahun tidak mengetahui kapan pembangunan masjid tersebut.  Kejelasan itu mulai terkuak tiga tahun lalu, ketika masyarakat kauman ingin merenovasi bangunan masjid. Di tumpukan barang peninggalan di gudang masjid, terdapat prasasti yang menjelaskan secara lengkap ihwal masjid tersebut. Prasasti itu kini ditempel di dinding masjid bagian depan.
Masjid Agung Baitunnur Pati


Masjid Agung Pati kebanggaan wong Pati ini ternyata dibangun pada tahun 1845. Usianya bahkan lebih tua 100 tahun daripada Indonesia merdeka tahun 1945. Pembangunan masjid yang berada dipojok barat daya alun alun simpang lima Pati ini merupakan ide Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro, Bupati Pati saat itu.
Masjid Agung Pati 1930




Masjid agung ini dibangun karena persebaran Islam di Pati sudah semakin pesat. Sebelumnya ada Masjid Gambiran yang  dibangun Sunan Kalijaga, pada 9 Oktober 1445.  
Pendopo samping kanan masjid

Masjid dengan desain yang kini tanpa kubah, ini itu sudah beberapa kali direnovasi. Tepatnya tahun 1979 dimana sebelumnya masjid ini berkubah, kemudian dihilangkan menjadi desain yang minimalis. 

Desain bangunan Masjid Agung Pati (masih berkubah) awalnya merupakan buah pikiran pemerintah Belanda. Saat itu, Belanda ingin membangun pabrik gula di Trangkil yang saat ini menjadi nama kecamatan di Pati. Ketika Belanda menyampaikan izin pembangunan pabrik tersebut kepada Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro, sang bupati memberikan syarat khusus. Mereka diharuskan lebih dahulu membangun masjid yang menjadi cikal bakal Masjid Agung Pati. Persyaratan itu pun disanggupi Belanda dengan waktu pembangunan selama lima tahun.
Ciri khas masjid agung pertama lebih mirip kuil daripada masjid karena memang di desaian oleh Belanda. Jejak peninggalan Belanda terkait bangunan masjid in hampir tak berbekas. Satu satunya yang masih dipakai masyarakat kauman adalah mimbar. Mimbar tersebut berusia sekitar 160 tahun. Mimbar itu merupakan hadiah dari Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro kepada pengelola masjid sembilan tahun setelah pembangunan masjid selesai.

Menara Masjid Baitunnur Pati
Selain bangunan tanpa kubah, ciri khas masjid ini adalah menaranya yang menjulang tinggi dan gagah. Rata-rata warga menggunakan Menara masjid ini sebagai latar belakang foto yang menunjukkan bahwa dia berada di tengah tengah kota Bumi Mina Tani.
*diolah dari berbagai sumber




Artikel Terkait

Masjid Agung Baitunnur Pati, Tanpa Kubah dan Bergaya Minimalis. Begini Sejarahnya
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Load Comments