Friday, February 24, 2017

Kisah KH. Nafi' Abdillah dan Seorang Preman

Destinasipati.com.  Kisah berikut ini diceritakan oleh Ustadz Moamar Elba tentang salah satu contoh kecil dari samudra hati KH. Nafi' Abdillah. Beliau didatangi seorang buronan polisi yang berikrar ingin bertaubat. Lalu tak berapa lama, polisi datang. Ahlaq Mbah Nafi' lah yang mendamaikan semuanya.

Kala itu di sekitar tahun 2003, saya mendapat amanat menjadi pengurus harian Pondok Pesantren PMH Pusat. Bagi saya pribadi, ini merupakan tahun yang indah, karena saya bisa sering sowan menghadap Pengasuh; Abah Nafi' Abdillah, mulai meminta tanda tangan beliau sampai urusan-urusan lain berkenaan permasalahan pondok.

Suatu siang di tahun itu, ada seorang tamu yang mengaku sebagai reserse polisi hendak sowan Abah. Karena pada siang itu Abah sedang mengajar Matole' banat, maka kemudian tamu tersebut mencari pengurus pondok.

Saya menemuinya, mempersilakan masuk kantor pondok. Belum sempat duduk, tamu tersebut langsung bertanya; "Mas, di pondok sini ada santri baru yang namanya Muchit?".

Saya sedikit gemetar. Muchit, nama yang baru kemarin saya dengar sebagai seorang buronan kepolisian memang ada di sini. Kemarin, dia sowan langsung menghadap Abah dan berikrar untuk taubat dan berharap untuk diterima nyantri di sini. Nama Muchit sendiri di lingkungan kampung sekitar sini sudah cukup populer aksi kriminalnya. Pernah menjadi narapidana kasus pencurian sarang burung walet, kasus pembunuhan, pembacokan warga, dan tawuran antar kampung. Dan pada kasus yang sekarang, saya dengar dia habis membacok seorang kondektur bis, lantaran kondektur tersebut menolak memberi upeti jatah mabuk untuknya.

Sekarang jelas, bahwa tamu yang sedang mencarinya ini adalah seorang reserse polisi. "Saya tidak tahu Pak," jawab saya. "Betul tidak tahu mas?", tanyanya lagi. "Mungkin bapak lebih baik sowan langsung ke Abah nanti sore sepulang Abah mengajar", jawabku untuk menghindari pertanyaannya lebih lanjut. "Hati-hati ya mas, kalau kamu menyembunyikan seorang buronan, kamu juga nanti bisa ditahan", pesan pak polisi sebelum pamit.

Selepas pak polisi tersebut pergi, saya dengan cepat mencari Muchit. Ternyata dia sedang tidur siang di kamar pojok ndalem Abah. Terlihat dari baju yang tersibak, badannya yang penuh tato. Saya membangunkannya dan berpesan kepadanya untuk tidak keluyuran kemana-mana. "Kamu harus tetap berlindung di sini, sampai Abah yang nanti memutuskan permasalahanmu." Dia mengangguk dan mengucap terima kasih berulang-ulang.

Jam 5 sore, pintu depan ndalem Abah terbuka, pertanda bahwa Abah mempersilakan siapa saja yang hendak bertamu. Saya menunggu di depan, dan pak polisi datang tepat waktu. Saya mempersilakannya masuk ke ndalem. Menunggu sebentar, Abah miyos dan kami bersalaman. Saya mendekat Abah dan matur mengenai sosok tamu ini. Dan pak polisi menyambung menjelaskan maksud kedatangannya.

Abah diam sejenak, lalu ngendikan, "Kalau seandainya dia (Muchid) biar tetap di sini dan saya yang akan mengurusnya, pripun?". Belum sempat pak polisi menjawab, Abah melanjutkan, "Biaya kasus, denda, dan tetek bengeknya pinten?".

Pak polisi terdiam. Sosok yang tadi siang saya kenal garang dan tegas, sekarang menjadi lembut dan santun, "Nggeh mpun pak yai, kulo ndere'ke mawon."

Abah tersenyum, sekejap masuk ke dalam dan keluar dengan menggenggam segepok uang dan memberikannya kepada pak polisi, "Monggo, ini biaya pengurusan Muchit". "Mboten usah pak yai, saya percaya panjenengan", jawab pak polisi.

Singkat cerita, pak polisi berpamitan, bersalaman, Abah memeluknya, pak polisi balas memeluk, sembari tersenyum.

Saya ikut berpamitan, ketika bersalaman, Abah berpesan,"Muchid diajari ngaji ya, mulai alif ba', sing sabar, iki amanat."

Keluar ndalem, saya masih terdiam dalam takjub. Abah Nafi', seluas itu samudera hati panjenengan, bahkan kepada seseorang yang oleh masyarakat telah dicap sebagai "sampah masyarakat", panjenengan bersedia menampungnya.

Senantiasa mengalir ke pangkuanmu, Abah Yai Nafi' Abdillah: al-Fatihah...

Monday, February 20, 2017

Kumpulan Petuah Bijak dan Kisah KH Nafi' Abdillah Kajen Pati

Ahad (19/2) Sang Kyai NU nan Kharismatik asal Kajen Pati, KH Ahmad Nafi' Abdillah (70 tahun), berpulang ke Rahmatullah sekitar pukul 00:30 waktu Istanbul (di RSUD Bakırköy İstanbul). Beliau wafat setelah menunaikan Ibadah Umroh kemudian berkunjung ke Uzbekistan dan terakhir di Turki yang saat ini sedang bersuhu sangat dingin.

Destinasipati.com berusaha mengumpulkan sejumlah nasihat beliau dari santri santri maupun kerabatnya. Semoga bermanfaat dan makin berkah ilmunya. Berikut beberapa petuah bijaknya.

TIPS SEHAT ALA Mbah K.H. Nafi' Abdillah

(Dikisahkan Ahsanul Fuad)
Usahakan jangan makan terlalu banyak,
 "aku nek mangan iki sedino ping pindo, mau jam 7 isuk, jam 10 ngombe teh, lan sak wuse ashar"
Ketika makan jangan disertai minum.
"Salahmu dewe sereden, wong wis diwarahi yen ngunyah iki 27 kali"
Dan minum ±2 jam setelah makan.
"Soale wektu bar mangan iki pencernaan lagi bekerja

KETAWADLU’AN Mbah Nafi’ (KH. Nafi’ Abdillah)

(Dikisahkan oleh Abdullah Khoirzad)
Ingatan saya yang masih jelas tentang beliau adalah ketawadlu’an dan kesopanan santunan yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
Saat aku di kelas 2 Aliyah, beliau mengampu Mustholah Hadist. Saat hataman diakhir tahun, beliau menangis didepan kelas, di hadapan kami sembari dawuh dalam bahasa khas Jawa Kajen medok yang maksudnya,
“Aku tidak pantas mengajar kamu, karena aku tidak sesuai dengan kriteria sebagai seorang muallim karena itu, maafkan aku,”
Peristiwa itu sudah terjadi di era tahun 1980-an saat beliau masih sebagai guru yang relatif masih muda, karena waktu itu masih ada generasi sepuh, semisal Romo Kiai Rifa’i Nasuha, Romo Kiai Hasir, juga masih ada Mbah Abdullah Salam.

KETAKZIMAN Mbah Nafi’ (KH. Nafi’ Abdillah)

(Dikisahkan oleh Abdullah Khoirzad)
Dan ternyata ajaran ketawadlu’an dan takzim beliau masih tetap diajarkan kepada santrinya saat beliau sudah memegang tongkat estafet kepemimpinan di Kajen pasca Mbah Sahal Mahfudz wafat.
Masih gamblang dalam ingatan saya, saat acara 1000 hari mbah Sahal. Ketika Mbah Nafi’ ini rawuh di halaman depan rumah Mbah Sahal, beliau tidak mau pinarak (duduk) didalam rumah bersama para kiai yang lain. Maka aku berusaha mendekati dan Sungkem ta’dzim dengan cara mushofahah, sembari aku matur.
 “diatur pinarak wonten lebet” (Dipersilakan duduk di dalam rumah)

 Jawaban beliau, merupakan hadiah ilmu yang sulit dinilai harganya bagiku,
“masak aku pinarak di dalam, sementara sebentar lagi guruku rawuh, Mbah Maemun Zubair Sarang, ora pantas Yak,” kata beliau.
Sehingga selama acara itu, beliau berdiri di depan ndalem Mbah Sahal memerankan diri sebagai penerima tamu, berjajar dengan adik beliau, Gus Zakki. Meskipun akhirnya Mbah Maemun -karena kondisi kesepuhannya,- tidak jadi hadir, Mbah Nafi’ tetap menunggu di depan ndalem, sebagai bentuk ta’dzim terhadap sang Guru.

NASIHAT UNTUK WANITA HAMIL

(Dikisahkan Nashiruddin Ahmad)
Nak arep lahiran iku akeh2 i moco  (laailaha illa anta subkhanaka inni kuntu minad dholimin), insyaallah angger yakin bakale diparingi gampang lan lancar. Woco setiap bar sholat minimal peng 3.
Iku dongane Nabi Yunus pas ono neg njero wetenge Iwak Paus. Terus nak bar lahiran ojo lali khataman neng makame Mbah Mutamakkin, tapi dibatasi waktune misale sak wulan / rong wulan kudu khatam.

NASIHAT UNTUK YANG BERHARAP KE KAYAAN

(Dikisahkan Nashiruddin Ahmad)
-Ojo langsung arep-arep sugeh, soale "kekarepan iku ora biso nembus ketetepane Gusti Allah" . Nak kaidahe neng kitab hikam kae ( سوابق الہمم الخ). Disyukuri wae sitik2 gag po po seng penting halal.
-Nak pas kerjo, meskipun kerjo opo wae, khususe dodolan, akeh-akehi moco sholawat. Pas nunggoni dagangan moco sholawat, nak ono wong tuku leren sek, bar ngedoli moco sholawat neh insyaallah iso dadi tambah laris tur Barokah dodolan mu iku.

NASIHAT BAGI YANG SUDAH BERUMAH TANGGA

Rumah tangga iku seng penteng:
1. Sabar
2. Sadar diri nak hakikate wong lanang iku seng noto wong wedok.
3. Nak ndelalahe ono perselisihan / tukaran, ojo ngasik anak2 mu weruh.
4. Nak coro Mbah dullah salam ndisek , nak anakmu pengen dadi "wong", ngakeh2 no sedekah, niati nyedekahi anak. Perilaku sedekah iki iso gawe atimu ora kantel karo ndonyo.
Nak bojo lanang seng sedekah, ganjarane iku seng entok nggo wong 4, lha nak seng wedok seng sedekah, ganjarane entok nggo wong 7.
5. Nak wayah pas pertama kali nyentuh bojomu, sentuho embun2 e disek, trus dongakno mugo2 pemikirane tambah apek, penalarane apek, lan sedoyone tambah apek.

MENGHARGAI PERBEDAAN PENDAPAT

(Dikisahkan KH. Muadz Thohir )
Mengapa perpecahan makin seru dan menjadi-jadi? Sebab sekarang ini setiap kali orang berbeda pendapat itu tidak mengikuti cara ulama’ dulu. Dulu beliau-beliau kalau beda pendapat tidak mencari bolo (pengikut--Jw), ditandangi (dihadapi--Jw) sendiri dan tidak mencari pengikut apalagi dengan cara-cara memfitnah. Imam madzahib dan para kyai beda pendapat tapi dengan tetap menghormat. Pada zaman dahulu banyak gegeran, tapi ‘bar yo bar’ (tidak ada dendam--Jw), tidak mencari teman untuk berseteru. Lha sekarang, gegeran selalu diikuti dengan mencari pengikut dan pendukung, mengajari memfitnah maka tidak heran kalau gegeran itu semakin dalam dan ruwet.
Imam-imam madzhab dan kyai-kyai dulu banyak yang berbeda pendapat, tapi masih menjaga rasa takdzim dan hormat.
Pernah suatu ketika, Mbah Mahfudh Salam (Ayah KH Sahal Mahfudh Kajen Pati) menjamak shalat dhuhur dan shalat ashar hanya karena ingin mengkhatamkan sebuah pengajian kitab. Kajen pun geger. Banyak kyai yang tidak sepakat, namun tetap menaruh hormat dengan apa yang dilakukan oleh Mbah Mahfudh Salam.
"Aku mengamalkan salah satu pendapat yang ada di dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin. Kalau tidak diamalkan, lantas siapa yang mau menggunakan?"
Jawab Mbah Mahfudh saat ditanyai kyai-kyai Kajen.
Dulu, banyak ulama yang ramai berbeda-beda pendapat mengenai sebuah persoalan. Tetapi "bar yo bar" (selesai, ya selesai), setelah itu tidak ada dendam. Karena beliau-beliau saling menghormati satu sama lain. Lha sekarang, jika ada ramai-ramai beda pendapat, selalu diikuti dengan mencari pengikut dan pendukung, sembari mengajari memfitnah. Maka tidak heran kalau gegeran itu semakin dalam dan ruwet.
Ulama yang benar-benar ulama cirinya itu ada 4:
1. Yang senantiasa bersedekah baik dalam keadaan mudah maupun susah
2. Yang mampu menahan emosi/amarah
3. Yang mudah memaafkan orang lain
4. Yang selalu ingat kepada Allah ketika melakukan kesalahan, kemudian beristighfar dan meminta maaf kepada yang bersangkutan, dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan.


Saturday, January 21, 2017

Foto Keren Jembatan Sampang Pati Ketika Masih Digantung Hingga Dicor Menjadi Jalur Alternatif

Destinasipati.com. Jembatan Gantung Sampang membentang di atas Sungai Silugonggo Juwana. Jembatan Gantung ini menghubungkan Tondomulyo Jakenan dengan Guyangan Purworejo Pati. Jalur ini bisa menghemat 20 menit daripada harus memilih jalur berputar lewat Juwana.

Jembatan ini sangat keren diambil gambarnya ketika pagi tiba, namun agak mengkhawatirkan jikalau malam hari. Pasalnya, jembatan ini hanya cukup untuk simpangan 2 motor dari dua arah. Lebih lebih jembatan ini tanpa lampu. 

 Goyangan jembatan ini bisa menjadi kenangan tersendiri ketika Anda pernah melewatinya. Terlebih saat angin kencang.

Kenangan paling mendebarkan adalah ketika Antrian motor dari belakang namun didepan ada ibu ibu menuntun sepedanya. Goyangan jembatan ini pasti bisa membuat adreanlin naik turun.
Kadang, meski moment ini agak emosional namun seru jika dikenang. Ketika kendaraan sudah berbanjar ke belakang, namun dari depan ada yang bawa jerami/ sak/ jerigen setumpuk. Mau kebelakang, motor dibelakang sudah klakson klakson, mau maju yang depan serem. Untungnya warga Pati damai, jadi gak perlu ada yang putus asa lalu melompat ke sungai kan? semuanya ada solusi yakni cukup dengan senyum, manggut lalu bantu yang jaraknya dari garis tengah untuk mundur dulu.
Saat dibangun, warga setempat membuat jembatan bantu, dan kita cukup membayar antara seribu dan dua ribu untuk lewat.
Saat malam hari jembatan ini terlihat keren. Beneran keren.

Yang dibawah ini lokasi favorit admin kalau lagi nonton pembangunan jembatan yang diresmikan awal tahun 2016 karena pada akhir 2015 sempat ambrol tiang pennyangga bagian tengahnya.
19 Februari 2016 jembatan ini diresmikan. Sudah hampir setahun ya ternyata. Saat peresmian, Bupati Pati Haryanto sujud syukur karena pembangunannya selesai di era pemerintahannya.
Saat ini lokasi jembatan ini bisa dilewati berbagai kendaraan, kecuali pesawat dan kereta api ...hehehe. Sejumlah remaja juga sering nongkrong atau sekedar berfoto foto.

Tuesday, January 17, 2017

Masjid Agung Baitunnur Pati, Tanpa Kubah dan Bergaya Minimalis. Begini Sejarahnya

destinasipati.com Jejak sejarah Masjid Agung Pati sempat tak terlacak. Para sesepuh dan tokoh masyarakat selama berpuluh-puluh tahun tidak mengetahui kapan pembangunan masjid tersebut.  Kejelasan itu mulai terkuak tiga tahun lalu, ketika masyarakat kauman ingin merenovasi bangunan masjid. Di tumpukan barang peninggalan di gudang masjid, terdapat prasasti yang menjelaskan secara lengkap ihwal masjid tersebut. Prasasti itu kini ditempel di dinding masjid bagian depan.
Masjid Agung Baitunnur Pati


Masjid Agung Pati kebanggaan wong Pati ini ternyata dibangun pada tahun 1845. Usianya bahkan lebih tua 100 tahun daripada Indonesia merdeka tahun 1945. Pembangunan masjid yang berada dipojok barat daya alun alun simpang lima Pati ini merupakan ide Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro, Bupati Pati saat itu.
Masjid Agung Pati 1930




Masjid agung ini dibangun karena persebaran Islam di Pati sudah semakin pesat. Sebelumnya ada Masjid Gambiran yang  dibangun Sunan Kalijaga, pada 9 Oktober 1445.  
Pendopo samping kanan masjid

Masjid dengan desain yang kini tanpa kubah, ini itu sudah beberapa kali direnovasi. Tepatnya tahun 1979 dimana sebelumnya masjid ini berkubah, kemudian dihilangkan menjadi desain yang minimalis. 

Desain bangunan Masjid Agung Pati (masih berkubah) awalnya merupakan buah pikiran pemerintah Belanda. Saat itu, Belanda ingin membangun pabrik gula di Trangkil yang saat ini menjadi nama kecamatan di Pati. Ketika Belanda menyampaikan izin pembangunan pabrik tersebut kepada Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro, sang bupati memberikan syarat khusus. Mereka diharuskan lebih dahulu membangun masjid yang menjadi cikal bakal Masjid Agung Pati. Persyaratan itu pun disanggupi Belanda dengan waktu pembangunan selama lima tahun.
Ciri khas masjid agung pertama lebih mirip kuil daripada masjid karena memang di desaian oleh Belanda. Jejak peninggalan Belanda terkait bangunan masjid in hampir tak berbekas. Satu satunya yang masih dipakai masyarakat kauman adalah mimbar. Mimbar tersebut berusia sekitar 160 tahun. Mimbar itu merupakan hadiah dari Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro kepada pengelola masjid sembilan tahun setelah pembangunan masjid selesai.

Menara Masjid Baitunnur Pati
Selain bangunan tanpa kubah, ciri khas masjid ini adalah menaranya yang menjulang tinggi dan gagah. Rata-rata warga menggunakan Menara masjid ini sebagai latar belakang foto yang menunjukkan bahwa dia berada di tengah tengah kota Bumi Mina Tani.
*diolah dari berbagai sumber




Monday, January 9, 2017

Taman Girli Sani, Tempat Ngopi dan Ngobrol Santai di Pinggir Kali

Tempat yang satu ini bisa jadi tempat alternatif yang asik buat ngobrol ngalor ngidul bebas dilokasi yang tak jauh dari Kota. Lokasinya tepat di bibir Kali Sani yang dikenal juga dengan Sungai Kalidoro.
Berada di Jl. Kembang Joyo atau tepat dipinggir Pasar Ya'ik yang lokasinya tak jauh dari Taman Hijau Kalidoro.

Saya penasaran mengapa tempat ini dinamakan Girli Sani? Nama yang cukup unik namun enak didengar. Ternyata Girli Sani adalah akronim dari pinGIR kaLI SANI.

Di taman girli sani yang tata lokasinya adalah taman dengan rangka besi dan kawat menyerupai atap yang sengaja diberi tanaman merambat untuk peneduh. Ada kursi dan meja seadanya yang bisa dipakai untuk ketemuan dengan teman, komunitas bahkan ngobrol politik sekalipun. Tak ada yang lebih tinggi pangkatnya disini. Tak membedakan pekerjaan, yang penting sama kegemaran yaitu ngopi.
Sugeng Samiyono misalnya, Guru Olahraga SMAN 1 Jakenan ini termasuk pengunjung tetap dilokasi ini.
"Yo ngopi, ngobrol ngobrol, takok takokan hp, takok takok onderdil sepeda, nggasaki konco-konco yo sah. Sing penting ojo loro atinan, kabeh seduluran" Kata guru yang hobby bersepeda ini.

Pernah kesini?

Wednesday, July 13, 2016

Balap Perahu Naga Kedung Pancing Juwana. Cocok Menjadi Destinasi Wisata Pati


Destinasipati.com. Kedung Pancing adalah salah satu desa berada di tepian sungai Silugonggo Juwana. Berseberangan dengan Desa Doropayung. Warga sekitar yang kesehariannya mencari penghidupan dari hasil sungai dan laut ini tiap tahun mengadakan agenda balap perahu naga. Tak tanggung tanggung, 18 tim ikut acara yang rutin digelar saat syawalan (pasca Hari Raya Idul Fitri).

Melihat antusias penyelenggaraan, peserta yang turut hadir, dan penonton yang meriah, nampaknya agenda tahunan ini cocok dimasukkan ke dalam agenda wisata tradisi di Kabupaten Pati. 

Lokasinya sebelah selatan jembatan kali juwana bagian selatan. Anda bisa menonton dari sisi Doropayung dan dari sisi Kedung Pancing. Namun kepanitiaan berada di Kedung Pancing. Biasanya berbarengan dengan penyelenggaraan Ketoprak.

Sunday, July 10, 2016

Lomban Sedekah Laut Kali Juwana, Agenda Pesta Rakyat Yang Layak Jadi Destinasi Wisata

Destinasipati.com - Tiap tahun pasca lebaran atau yang biasa disebut "bodo kupatan" Kota Juwana selalu mengadakan tradisi lomban sedekah laut atau kadang juga disebut larung sesaji kali juwana. Agenda ini tidak hanya menyelenggarakan kirab sesaji untuk dilarung ke laut saja, tetapi juga berbagai pertunjukan dan perlombaan. Pertunjukan ketoprak, lomba tangkap bebek, lomba balap perahu, dan konser dangdut beberapa grup musik pantura ternama sering dilakukan.


Puncaknya, kirab/ arak arakan sesaji mulai dari alun alun juwana menuju PPI Bajomulnyo. Warga selalu antusias di sepanjang jalan hingga sampai di komplek PPI Bajomulyo.

Dikali hingga dilaut, hilir mudik kapal kecil dan besar melarung sesaji/ memberikan sedekah laut. Biasanya mereka bersama keluarga sambil membaca nasi kotak atau besekan yang akan dimakan dan dibagikan dengan kapal lain yang dijumpainya. 

Agenda ini jika dikelola dengan lebih rapi, sangat berpotensi menjadi daya tarik berbagai kerajinan dan kuliner khas juwana. Bazar batik, kuningan, berbagai olahan hasil laut, bandeng presto dan lainnya bisa dipasarkan saat itu juga (Saat ini belum dilakukan lho...:D )

Puncak acara sedekah laut untuk tahun ini direncanakan tanggal 17 Juli 2016 mulai pagi buta. Pastinya, agenda tahunan ini sangat sayang untuk dilewatkan.